Menu

Mode Gelap
Anggrekku, dan Sebuah Cara Mengenal Warsito Disnaker Lampung Akan Turunkan Tim Pengawasan ke Pembangunan Hotel Prasanthi Diduga Abaikan K3, Proyek Hotel Prasanthi Lampung Disorot: Pekerja Tanpa APD, Tower Crane Menjorok ke Jalan Menata Unila agar Berakar di Lampung, Mandiri, Berdampak bagi Negeri, dan Berjejaring dengan Dunia Prof. Warsito Resmi Daftar Bakal Calon Rektor Unila 2027–2031, Tekankan Amanah dan Integritas Gazebo Baru di Hargo Pancuran, Ikhtiar Mahasiswa KKN UML Sulap Taman Desa Jadi Ruang Publik yang Menawan

Berita Utama

Anggrekku, dan Sebuah Cara Mengenal Warsito

badge-check


					Anggrekku, dan Sebuah Cara Mengenal Warsito Perbesar

Oleh Endiwan Wangsa P
Melihat, Mendengarkan, Mengajak, Memfasilitasi, Merasakan, dan Bergerak Bersama untuk Unila yang Lebih Baik
Feature/opini | Pemilihan Rektor Universitas Lampung 2027–2031

Ada bunga yang tidak perlu berteriak untuk menarik perhatian. Ia cukup tumbuh, dirawat, lalu mekar. Anggrek kuning keemasan dalam sebuah ruang pertemuan itu mengingatkan pada satu hal sederhana: keindahan yang matang biasanya tidak gaduh. Ia hadir melalui proses, akar, kesabaran, dan ketekunan.

Mungkin begitu pula cara yang paling sehat untuk mengenal seorang calon pemimpin universitas. Bukan pertama-tama dari siapa yang paling ramai berbicara, melainkan dari jejak yang sudah ditempuh, cara membaca persoalan, gagasan yang ditawarkan, dan kesediaannya bekerja bersama orang lain.

Anggrek mekar di balik jendela,
Kuning berseri disapa cahaya;
Pemimpin bukan sekadar bicara,
Jejak kerjalah yang berbicara.

Dalam proses Pemilihan Rektor Universitas Lampung periode 2027–2031, pertanyaan seperti itu menjadi relevan. Unila sedang memilih arah, bukan sekadar memilih nama. Portal resmi Pilrek menetapkan tahapan penjaringan, penyaringan, pemilihan, hingga penetapan dan pelantikan. Pada fase penyaringan, visi, misi, dan program kerja bakal calon akan menjadi bagian penting dari proses yang harus dibaca secara terbuka oleh sivitas akademika.

Melihat Luka Tanpa Memelihara Luka

Mengenal Unila hari ini juga berarti berani melihat sejarahnya dengan jernih. Pada 2022, kasus suap penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri menyeret mantan Rektor Karomani, mantan Wakil Rektor I Heryandi, dan mantan Ketua Senat Muhammad Basri sebagai penerima, bersama pihak pemberi suap. Peristiwa itu kemudian masuk ke proses peradilan. Bagi sebuah perguruan tinggi, perkara tersebut bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Ia adalah cermin tentang betapa pentingnya integritas, transparansi, pengawasan, dan tata kelola. Namun, cermin tidak dibuat untuk terus dipandangi dengan kemarahan. Ia digunakan agar kita dapat memperbaiki wajah yang tampak di dalamnya.

Karena itu, luka lama semestinya tidak menjadi bahan untuk memelihara permusuhan. Ia harus menjadi pelajaran kelembagaan: kewenangan harus dibatasi oleh aturan, keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan, dan kampus harus menjadi tempat di mana merit dan integritas lebih tinggi daripada kepentingan sesaat.

Pergi pagi membawa lentera,
Singgah sebentar di taman sepi;
Luka lama jangan dipelihara,
Jadikan cermin menata diri.

Al-Wasi’i dan Pertanyaan tentang Amanah

Masjid Al-Wasi’i juga menyimpan dimensi yang lebih luas daripada sekadar bangunan. Perjalanan pembangunan dan renovasinya pernah menjadi perhatian warga kampus. Di sana terdapat pertanyaan yang patut dibaca sebagai pertanyaan tata kelola: bagaimana merencanakan pembangunan, menjaga kesinambungan, memastikan transparansi, dan mempertemukan keputusan kelembagaan dengan harapan warga universitas.

Bangunan dapat dibangun kembali. Anggaran dapat direncanakan kembali. Desain dapat diubah. Tetapi kepercayaan jauh lebih sulit dibangun. Karena itu, setiap pembangunan fisik seharusnya berjalan bersama pembangunan nilai. Universitas bukan hanya tempat mendirikan gedung; ia adalah tempat membangun manusia dan kepercayaan.

Masjid berdiri tempat bersujud,
Teduh hati dalam doa;
Gedung boleh dibangun dengan wujud,
Amanah harus lebih dahulu dijaga.

Dalam konteks inilah sosok Warsito menarik untuk dilihat lebih dekat. Bukan karena ia perlu ditempatkan sebagai manusia tanpa kekurangan, tetapi karena perjalanan akademik dan manajerialnya menyediakan cukup banyak bahan untuk memahami bagaimana ia memandang sebuah organisasi dan bagaimana ia ingin Unila bergerak.

Mengenal Warsito dari Perjalanan, Bukan Sekadar Pencalonan

Warsito adalah profesor di bidang fisika yang lama berkiprah di Unila. Ia pernah memimpin di tingkat fakultas sebagai Dekan FMIPA, sebelumnya dipercaya sebagai Ketua Senat Unila, dan memiliki pengalaman pada pengembangan kurikulum. Di luar kampus, pengalaman membawanya menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Paris serta menjalankan tugas koordinasi kebijakan di Kemenko PMK. Rangkaian pengalaman itu menarik bukan semata karena panjangnya daftar jabatan. Yang lebih penting adalah jenis pengalaman yang dibawanya: berada di ruang akademik, mengelola fakultas, memahami tata kelola universitas, berhadapan dengan jejaring internasional, dan kemudian melihat pendidikan dari perspektif kebijakan nasional.

Ketika terpilih menjadi Dekan FMIPA pada 2016, Warsito menyampaikan gagasan bahwa akademik harus menjadi panglima pengembangan institusi, sementara unsur lain menjadi pendukungnya. Pernyataan itu sederhana, tetapi cukup menggambarkan satu prinsip: organisasi perguruan tinggi pada akhirnya harus kembali kepada misi akademiknya.

Pergi ke taman membawa pena,
Menulis gagasan di atas kertas;
Jabatan bukan ukuran utama,
Cara bekerjalah yang memberi bekas.

Melihat
Dalam gagasan 100 hari yang disiapkannya jika mendapat amanah, Warsito menempatkan konsolidasi berbasis data dan quick wins sebagai titik awal. Salah satu fokusnya adalah kualitas akademik dan keberhasilan mahasiswa. Ia menyebut perlunya audit terhadap pengalaman belajar mahasiswa, termasuk kelulusan tepat waktu, kapasitas laboratorium, layanan digital, beban akademik, dan mobilitas mahasiswa.
Ini penting karena universitas sering terlalu mudah terpesona oleh angka besar, sementara persoalan sehari-hari mahasiswa justru berada pada hal-hal yang tampak kecil: layanan yang lambat, mata kuliah yang tersendat, fasilitas yang tidak memadai, atau sistem yang membuat mahasiswa membutuhkan waktu lebih panjang untuk menyelesaikan studinya.

Melihat berarti berani turun dari menara laporan menuju pengalaman nyata. Melihat apa yang sudah baik untuk dipertahankan, dan melihat apa yang belum baik untuk diperbaiki. Pemimpin yang melihat dengan jernih tidak perlu menciptakan masalah baru agar terlihat bekerja. Ia menemukan masalah yang memang ada, lalu mengajak orang menyelesaikannya.

Pergi ke pasar membeli delima,
Pulangnya membawa lentera;
Pemimpin harus melihat hal nyata,
Bukalah hanya membaca angka.

Mendengarkan dan Mengajak

Universitas tidak mungkin bergerak hanya dengan instruksi dari satu ruang. Ada dosen yang memiliki gagasan, mahasiswa yang mengalami persoalan, tenaga kependidikan yang memahami alur layanan, peneliti yang mengetahui kebutuhan laboratorium, alumni yang membawa pengalaman dari luar, dan mitra yang melihat peluang yang mungkin belum terlihat dari dalam.

Karena itu, mendengarkan bukan tanda kelemahan pemimpin. Justru sebaliknya. Mendengarkan adalah cara memperoleh informasi sebelum mengambil keputusan. Dari mendengar lahir pemahaman; dari pemahaman lahir prioritas; dari prioritas lahir tindakan yang lebih tepat.

Anggrek kuning tumbuh berseri,
Disiram pagi penuh perhatian;
Dengarkan suara seluruh negeri,
Agar keputusan berakar kebutuhan.

Dari sini gagasan ‘100 jari’ memperoleh maknanya. Seratus jari bukan sekadar angka yang indah disebut. Ia adalah metafora tentang kerja kolektif. Rektor tidak mungkin mengurus semuanya sendiri. Bahkan pemimpin terbaik sekalipun akan gagal jika seluruh organisasi hanya menunggu perintah.
Seratus jari berarti tangan fakultas, program studi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, peneliti, mitra pemerintah, dunia usaha, dan jejaring internasional bergerak menuju tujuan yang sama. Pemimpin dalam kerangka ini bukan pemilik semua gagasan. Ia adalah orang yang menyatukan gagasan, membuka jalan, dan memastikan energi organisasi tidak habis karena saling bertabrakan.

Satu jari mudah terluka,
Lima jari mampu menggenggam;
Seratus jari bersatu tenaga,
Unila maju karena bersama-sama.

Memfasilitasi: Membuka Jalan bagi Orang-Orang Baik

Di bidang riset dan inovasi, Warsito menawarkan pendekatan yang juga berangkat dari pemetaan. Dalam 100 hari pertama, ia menyebut rencana memetakan klaster riset unggulan, peneliti inti, fasilitas laboratorium, mitra strategis, portofolio paten atau HKI, sumber pendanaan, dan peluang hilirisasi. Gagasannya adalah agar riset tidak berhenti sebagai publikasi, tetapi semakin banyak menghasilkan manfaat dan nilai tambah.

Di sinilah pemimpin berfungsi sebagai fasilitator. Ia tidak harus menjadi peneliti terbaik di semua bidang. Ia harus mampu menciptakan lingkungan agar peneliti terbaik dapat bekerja. Ia tidak harus menguasai seluruh disiplin. Ia harus mampu membuat berbagai disiplin bertemu untuk menjawab masalah. Hal yang sama berlaku pada aset dan tata kelola. Aset universitas tidak seharusnya sekadar tercatat sebagai daftar inventaris. Ia harus dibaca sebagai potensi yang dapat memberikan manfaat bagi pendidikan, riset, pengabdian, dan kemandirian institusi, tentu dengan tata kelola yang akuntabel.

Anggrek tumbuh karena akarnya,
Bukan karena bunga seorang diri;
Pemimpin besar membuka jalannya,
Agar setiap insan memberi arti.

Merasakan: Ketika Angka Kembali kepada Manusia

Ada satu hal yang tidak boleh hilang dalam pembicaraan tentang universitas: manusia. Ranking penting. Publikasi penting. Akreditasi penting. IKU penting. Pendapatan penting. Tetapi semua indikator itu pada akhirnya harus kembali kepada pengalaman manusia. Mahasiswa harus merasakan layanan yang lebih baik. Dosen harus merasakan ekosistem akademik yang sehat. Tenaga kependidikan harus memiliki sistem kerja yang jelas. Peneliti harus memperoleh ruang untuk menghasilkan karya. Alumni harus merasakan kebanggaan. Dan masyarakat harus merasakan bahwa ilmu yang lahir dari Unila memang memberi manfaat.

Bunga mekar di pagi hari,
Embun bening jatuh perlahan;
Jangan hanya menghitung prestasi,
Rasakan pula denyut kehidupan.

100 Hari Bukan Seratus Janji
Konsep 100 hari pertama karena itu perlu dibaca sebagai awal kerja, bukan seratus janji. Tiga prioritas yang disampaikan Warsito mencakup percepatan kualitas akademik dan keberhasilan mahasiswa; percepatan riset, inovasi, dan dampak; serta optimalisasi aset, tata kelola, dan pendapatan. Yang menarik adalah penekanannya pada konsolidasi berbasis data dan quick wins yang dapat dirasakan sivitas akademika. Artinya, 100 hari bukan perlombaan membuat sebanyak mungkin program baru. Ia adalah kesempatan untuk mengetahui posisi organisasi, menentukan beberapa masalah yang paling mendesak, mengerjakan yang mungkin segera diperbaiki, dan membangun fondasi untuk pekerjaan yang lebih panjang.

Seratus hari bukan pesta,
Bukan panggung mencari nama;
Seratus jari bekerja nyata,
Mengubah gagasan menjadi karya.

Jika kelak Warsito memperoleh amanah, ukuran keberhasilannya tentu bukan banyaknya kalimat yang pernah diucapkan selama masa pencalonan. Ukurannya adalah apakah gagasan itu berubah menjadi sistem yang lebih baik, layanan yang lebih cepat, riset yang lebih berdampak, aset yang lebih produktif, dan suasana akademik yang lebih sehat.

Pada Akhirnya, Pilrek adalah tentang Arah

Mengenal Warsito tidak harus berakhir pada kesimpulan bahwa semua orang harus mendukungnya. Dalam sebuah pemilihan yang sehat, setiap warga kampus berhak menilai dengan pikirannya sendiri. Justru karena itu, gagasan perlu diletakkan di ruang publik agar kawan maupun lawan dapat membaca, membandingkan, bertanya, dan menilai.

Yang perlu dilihat adalah apakah seorang kandidat mampu membawa Unila keluar dari perdebatan personal menuju pekerjaan kelembagaan. Apakah ia mampu mengubah pengalaman menjadi pembelajaran, jaringan menjadi peluang, data menjadi keputusan, dan keputusan menjadi kerja bersama.

Warsito menawarkan satu cara pandang yang cukup jelas: melihat, mendengarkan, mengajak, memfasilitasi, merasakan, lalu bergerak. Urutannya penting. Melihat tanpa mendengar dapat membuat pemimpin keliru. Mendengar tanpa bertindak membuat organisasi lelah. Bertindak tanpa memfasilitasi membuat perubahan bergantung pada satu orang. Dan bekerja tanpa merasakan kebutuhan manusia membuat universitas kehilangan jiwanya.

Yang retak jangan dipertajam,
Yang hilang jangan terus diratapi;
Yang salah jadikan pembelajaran,
Yang benar kita tegakkan kembali.

Mungkin di situlah metafora anggrek menemukan maknanya. Ia tidak tumbuh dengan gaduh. Ia membutuhkan akar, lingkungan, perhatian, dan waktu. Ketika waktunya tiba, ia mekar dan orang lain yang melihatnya dapat menilai sendiri keindahannya.
Begitu pula seorang pemimpin. Ia tidak perlu terus-menerus mengatakan bahwa dirinya mampu. Yang kelak berbicara adalah hasil kerjanya. Ia tidak harus menjadi pusat dari seluruh perhatian. Justru ia harus mampu membuat seluruh taman tumbuh.

Anggrek mekar warna keemasan,
Teduh dipandang sepanjang masa;
Bila amanah menjadi pengabdian,
Seratus jari bergerak bersama.

Pada akhirnya, Pilrek Unila 2027–2031 bukan hanya tentang siapa yang duduk di kursi Rektor. Ia tentang bagaimana sebuah universitas menentukan arah setelah melewati berbagai pengalaman; tentang bagaimana luka masa lalu diubah menjadi pelajaran; dan tentang bagaimana seluruh kekuatan kampus dipertemukan untuk menatap masa depan.

Anggrekku… teruslah mekar.

Sebab universitas yang baik bukanlah taman yang hanya memiliki satu bunga paling indah, melainkan taman yang membuat banyak bunga tumbuh, saling menguatkan, dan bersama-sama menjadi cahaya bagi masyarakat.

Salam satu tujuan, satu hati.

Baca Lainnya

Disnaker Lampung Akan Turunkan Tim Pengawasan ke Pembangunan Hotel Prasanthi

2 September 2026 - 04:32 WIB

Diduga Abaikan K3, Proyek Hotel Prasanthi Lampung Disorot: Pekerja Tanpa APD, Tower Crane Menjorok ke Jalan

1 September 2026 - 06:30 WIB

Menata Unila agar Berakar di Lampung, Mandiri, Berdampak bagi Negeri, dan Berjejaring dengan Dunia

28 Agustus 2026 - 15:51 WIB

Prof. Warsito Resmi Daftar Bakal Calon Rektor Unila 2027–2031, Tekankan Amanah dan Integritas

19 Agustus 2026 - 03:18 WIB

Gazebo Baru di Hargo Pancuran, Ikhtiar Mahasiswa KKN UML Sulap Taman Desa Jadi Ruang Publik yang Menawan

17 Agustus 2026 - 18:12 WIB

Trending di Berita Utama