Menu

Mode Gelap
Prof Warsito Rampungkan Tes Kesehatan Bakal Calon Rektor Unila 2027–2031 PRANTARA Apresiasi Kejagung Bongkar Mafia Korporasi di Lampung 2.753 Pasien TBC di Lampung Rentan Terdampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Masih Siaga, Pemprov Lampung Perkuat Mitigasi dari Laut hingga Layanan Kesehatan 12 Raperda Inisiatif DPRD Lampung Menyasar Sektor Strategis, Pemprov Tekankan Manfaat untuk Masyarakat Pemprov Lampung Pastikan Kesiapsiagaan Destana Hadapi Dampak Erupsi Anak Krakatau

Berita Utama

Analisis Penyebab Banjir di Kecamatan Rajabasa: Hasil Observasi Lapangan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lampung

badge-check


					Analisis Penyebab Banjir di Kecamatan Rajabasa: Hasil Observasi Lapangan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lampung Perbesar

Banjir yang terjadi di Kecamatan Rajabasa tidak hanya dipengaruhi oleh tingginya curah hujan, tetapi juga oleh kondisi drainase, perubahan fungsi lahan, dan aliran air dari daerah yang lebih tinggi. Temuan ini diperoleh melalui observasi lapangan yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lampung.

Banjir masih menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang kerap terjadi di Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian sosial, ekonomi, dan lingkungan. Berdadarkan dari kondisi tersebut, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lampung melaksanakan observasi lapangan untuk mengidentifikasi faktor penyebab banjir serta memberikan alternatif solusi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Hasil observasi menunjukkan bahwa Kecamatan Rajabasa berada pada wilayah dataran yang lebih rendah dibandingkan beberapa daerah di sekitarnya. Kondisi ini menyebabkan kawasan tersebut menjadi titik berkumpulnya aliran air yang berasal dari wilayah dengan elevasi lebih tinggi, seperti Kemiling dan Pramuka. Saat hujan turun dengan intensitas tinggi, volume air yang masuk ke kawasan Rajabasa meningkat sehingga saluran drainase tidak mampu menampung seluruh debit air.Selain faktor geografis, tim observasi juga menemukan bahwa kapasitas drainase yang terbatas menjadi salah satu penyebab utama terjadinya genangan. Pada beberapa titik, saluran drainase mengalami penyempitan dan terdapat penumpukan sampah yang menghambat aliran air. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya sedimentasi sehingga fungsi drainase menjadi kurang optimal ketika hujan deras terjadi.

Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat sekitar, banjir yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh curah hujan di wilayah Rajabasa, tetapi juga dipengaruhi oleh kiriman air dari daerah yang lebih tinggi. Selain itu, alih fungsi lahan yang mengurangi kawasan resapan air turut meningkatkan limpasan air permukaan sehingga memperbesar potensi banjir.

Permasalahan tersebut memberikan dampak yang cukup besar bagi masyarakat, mulai dari terganggunya aktivitas sehari-hari, menurunnya kenyamanan lingkungan, hingga meningkatnya risiko kerusakan infrastruktur. Apabila tidak ditangani secara menyeluruh, banjir yang terjadi secara berulang berpotensi menimbulkan kerugian yang lebih besar di masa mendatang.

Sebagai bentuk upaya penanganan, tim observasi merekomendasikan beberapa langkah yang dapat dilakukan secara terpadu. Pertama, melakukan normalisasi, pelebaran, dan peningkatan kapasitas saluran drainase agar mampu menampung debit air yang berasal dari wilayah dengan elevasi lebih tinggi. Kedua, mengendalikan alih fungsi lahan serta mempertahankan kawasan resapan air melalui penyediaan ruang terbuka hijau, pembangunan sumur resapan, dan lubang biopori untuk mengurangi limpasan air permukaan. Ketiga, melakukan pemeliharaan drainase secara berkala melalui pembersihan sampah dan sedimentasi agar aliran air tetap lancar. Keempat, memperkuat koordinasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pihak terkait dalam pengelolaan sistem drainase secara terpadu mulai dari wilayah hulu hingga hilir, mengingat banjir di Rajabasa dipengaruhi oleh kiriman air dari daerah yang lebih tinggi. Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah ke saluran air juga perlu terus ditingkatkan sebagai upaya pencegahan jangka panjang.

Dengan penerapan berbagai upaya tersebut, diharapkan penanganan banjir di Kecamatan Rajabasa dapat dilakukan secara lebih efektif, tidak hanya mengurangi dampak banjir yang terjadi saat ini, tetapi juga meningkatkan ketahanan lingkungan melalui pengelolaan drainase, perlindungan kawasan resapan, serta kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Baca Lainnya

Prof Warsito Rampungkan Tes Kesehatan Bakal Calon Rektor Unila 2027–2031

10 September 2026 - 14:47 WIB

PRANTARA Apresiasi Kejagung Bongkar Mafia Korporasi di Lampung

10 September 2026 - 11:24 WIB

2.753 Pasien TBC di Lampung Rentan Terdampak Abu Vulkanik

9 September 2026 - 17:26 WIB

Gunung Anak Krakatau Masih Siaga, Pemprov Lampung Perkuat Mitigasi dari Laut hingga Layanan Kesehatan

9 September 2026 - 17:12 WIB

12 Raperda Inisiatif DPRD Lampung Menyasar Sektor Strategis, Pemprov Tekankan Manfaat untuk Masyarakat

9 September 2026 - 17:09 WIB

Trending di Berita Utama